Rabu, 29 Desember 2010

Peran dan Fungsi Masjid

Peran dan Fungsi Masjid
Masjid adalah simbol keislaman. Ia tidak dapat dipisahkan dari kehidupan umat Islam, karena masjid merupakan bentuk ketundukan umat kepada Allah swt. Kata masjid terulang dua puluh delapan kali dalam Alquran. Secara bahasa masjid berasal dari kata sajada-sujud artinya patuh; taat; tunduk dengan penuh hormat. Meletakkan dahi, kedua tangan, lutut, dan kaki ke bumi, atau bersujud ini adalah bentuk lahiriyah yang paling nyata dari makna-makna tersebut. Itulah sebabnya mengapa bangunan yang dikhususkan untuk shalat dinamai masjid, “tempat bersujud”.
Dalam pengertian sehari-hari, masjid merupakan bangunan tempat shalat kaum Muslim. Tapi karena akar katanya mengandung makna tunduk dan patuh, hakikat masjid menjadi tempat melakukan segala aktivitas yang mengandung kepatuhan kepada Allah swt. Alquran menegaskan:

“Sesungguhnya masjid-masjid itu adalah milik Allah, maka janganlah kamu menyembah sesuatu di dalamnya selain Allah”. (QS. Al-Jinn {72}: 18)

Rasulullah saw. bersabda:
“Telah dijadikan untukku (dan untuk umatku) bumi sebagai masjid dan sarana penyucian diri”. (HR Bukhari dan Muslim melalui Jabir bin Abdullah)
Tampaknya masjid bukan sekadar tem- pat sujud dan sarana penyucian atau bertayamum (wudhu dengan debu suci). Masjid adalah tem- pat Muslim bertolak, sekaligus pelabuhan tempatnya bersauh dalam ketaatan kepada Allah swt. Masjid sebagai institusi kaum muslimin, merupakan indikator bagi muslim paripurna (Insan Kamil). Dengan predikat ini, umat muslim harus bisa memaksimalkan keberadaan masjid sebagai pusat aktivitas yang menawarkan kegiatan-kegiatan alternatif dalam berdakwah. Contoh yang telah ada adalah kegiatan berdakwah melalui media televisi komunitas atau radio komunitas, seperti TV komunitas Masjid Jogokarian di Yogyakarta (MJTV) dan PAL TV di Masjid Sadzudarain di Palmerah Jakarta.

Amal Ibadah Shalat dan Fungsi Masjid
Shalat adalah kegiatan utama yang dilaksanakan di masjid. Hadis Nabi riwayat Hudaifah:

“Rasulullah saw. bersabda: Saya telah diciptakan berbeda dengan umat sebe- lumnya dalam tiga perkara: shaf-shaf kami telah dijadikan seperti shaf para malaikat dan seluruh dunia merupakan masjid untuk kami, dan debunya telah dijadikan penyuci jika air tidak tersedia....”. (HR. Muslim)

Dalam hadis tersebut dapat ditemukan bahwa shalat yang memiliki shaf, mengandung makna kedisiplinan, keteraturan dan kepatuhan terhadap waktu. Itu artinya masjid tidak hanya bisa dipakai untuk shalat saja. Hal-hal lain yang terkait dengan kepatuhan terhadap Allah swt. bisa dilakukan di sana. Seperti pada masa Rasulullah masjid memiliki fungsi lain seperti pusat pemerintahan, proses legislasi, interaksi masyarakat, dan fungsi-fungsi duniawi lainnya.
Hadis Nabi saw: Diriwayatkan oleh Annas ra., “Beberapa barang datang kepada Rasulullah dari Bahrain. Rasulullah memerintahkan kepada para sahabat untuk membagikannya di masjid, dan barang itu merupakan jumlah terbesar yang pernah diterima Rasulullah saw. Ia mening galkannya untuk shalat tanpa menengoknya sama sekali. Setelah usai shalat, Nabi duduk di depan barang- barang tersebut dan membagikannya kepada siapa saja yang ia lihat. Al Abbas datang kepada beliau dan berkata, ‘Wahai Rasulullah berikan padaku sebagian barang-barang itu, karena saya perlu memiliki bekal untuk saya dan Aqil.’ Rasulullah lalu meminta ia untuk meng- ambilnya sendiri...”. (HR. Bukhari)

Selain itu masjid juga harus mampu memberikan ketenangan dan ketenteraman pada pengunjung dan lingkungannya. Apabila masjid dituntut berfungsi membina umat, tentu sarana yang dimilikinya harus tepat, menyenangkan dan menarik umat, baik dewasa, anak-anak, maupun remaja, laki-laki maupun perempuan. Dalam Muktamar Risalatul Masjid di Makkah tahun 1975, hal ini telah didiskusikan dan disepakati, bahwa masjid baru dapat dikatakan berperan secara baik bila memiliki ruangan dan peralatan memadai, bersih dan sehat untuk shalat; Memiliki ruang khusus perempuan baik untuk shalat maupun Pendidikan Kesejahteraan Keluarga (PKK), yang memungkinkan mereka keluar masuk tanpa bercampur dengan jamaah pria; Ada ruang pertemuan dan perpustakaan; Poliklinik dan ruang memandikan dan mengkafani jenazah; Ruang bermain, berolahraga, dan berlatih bagi remaja.
Hal-hal tersebut tentunya harus diwarnai oleh kesederhanaan fisik bangunan, namun tetap menunjang peranan masjid yang ideal. Terkait dengan hal itu, masjid juga memiliki mandat membangun pandangan dunia terhadap uswah hasanah (teladan) yang diberikan Rasulullah saw. yang harus dilaksanakan para pengurusnya dalam memasyarakatkan masjid. Memang, masjid sangat berpotensi mewarnai perkembangan dunia. Pemahaman luas dari umat mengenai misi masjid yang tidak sekedar tempat shalat semata, melainkan tempat ‘rahmat bagi alam semesta’, akan semakin memperkaya fungsi masjid. Dari sini semo- ga umat dapat menghapus pandangan sempit tentang peran dan fungsi masjid. Tentunya dengan tanpa membatasi siapapun, laki-laki dan perempuan berkunjung ke rumah Allah agar dapat belajar dan beribadah hanya karena Allah swt. (Uib Sholahuddin Al Ayubi, Banten)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar